Minggu, 05 April 2020

Teruntuk Sahabatku

Ah baru saja aku menuliskan apa yang menjadi kerinduanku dan kegigihanku, aku harus menuliskan lagi hal yang sama terhadap sahabatku ini. 
Masih ingat tulisan yang sebelumnya tentang sahabatku? Selain dia belum meberikan rasa percayanya kepadaku ternyata dia juga belum merasakan kehadiranku selama ini, bagi dia aku seolah tidak ada dan apa yang selama ini aku lalukan belum menunjukkan sebuah kehidupan. 
Hal pertama yang ada dalam pikiranku adalah kekecewaan. Hey, bagaimana mungkin yang kau lakukan itu sebenarnya tidak ada. Tulisan ini sebenarnya tidak ada, cerita kemarin sebenarnya tidak ada, aku sebenarnya tidak ada. Padahal dengan jelas aku menulis dengan sungguh sungguh, bercerita dengan antusias dan harap, hadir dengan siap mendengarkan. Tetapi sesungguhnya aku seperti menjaring angin, sia - sia. Kenapa kalimat itu harus terucap melalui dia yang aku angga ada dan membuatku hidup? Aku seperti memukul batin dengan kayu, hanya menghacurkan diriku sendiri. Tapi sama seperti air yang tidak lebih keras dari kayu namun bisa membuat lobang pada batu jika terus di teteskan, begitu juga akau tidak akan menyerah terhadap diriju, dirimu dan orang lain yang terkadang menyakiti rasa percaya ku, karna aku tau Dia yang selalu percaya terhadap diriku untuk aku bisa berjalan dengan kehendaknya yakni mengasihi sesama seperti aku mengasihi diriku sendiri. 
Sarah seandainya kamu melihat tulisan ini, percayalah aku bersyukur bisa bertemu dan berkomunikasi denganmu, kerinduanku adalah kita bisa bercerita lebih awal dan tidur lebih awal. Kamu bisa lebih sehat, aku lebih sehat, disisi lain aku juga ingin belajar untuk bisa lebih tegas terhadap diriku sendiri dan orang lain. Tetap semangat Dino!! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar